Pages

Sunday, 13 May 2012

Kisah Sukses Pengusaha Bownies


Kisah Sukses Amanda Brownies Kukus


Kelezatan brownies kukus ternyata tidak hanya berhasil memikat lidah masyarakat luas, makanan ini ternyata juga memberikan sejarah penting bagi Hj. Sumiwiludjeng dan suaminya H. Sjukur Bc.AP dalam mengawali kisah suksesnya menjalankan bisnis rumahan.
Tentu Anda sudah tidak asing lagi bila mendengar produk brownies kukus dengan merek “Amanda”. Produk yang dulu dikenal sebagai oleh-oleh khas Bandung ini, sekarang gerai dan tokonya sudah bisa diperoleh di kota-kota besar lainnya seperti Yogyakarta, Surabaya dan Medan. Namun siapa sangka bila kesuksesan Amanda yang kini telah berhasil membuka gerai di berbagai kota sampai memiliki pabrik kue, berasal dari bisnis rumahan yang dulunya hanya dikerjakan Sumi dan dibantu anggota keluarganya.
Mengawali bisnis sesuai dengan minat dan bakat, memang merupakan alternatif tepat untuk bisa sukses menjalankan sebuah bisnis. Bermodalkan kemampuan memasak yang didapatkan Sumi ketika mengenyam Pendidikan Kesejahteraan dan Keluarga di IKIP Jakarta, Ia menjalankan bisnis katering rumahan dengan menerima pesanan kue dan makanan untuk acara-acara tertentu.
Di akhir  tahun 1999 Sumi mencoba resep kue bolu kukus yang didapatkan dari salah seorang saudaranya. Ia mencoba resep tersebut hingga berulang-ulang, sampai akhirnya menemukan takaran yang pas untuk bolu kukus tersebut. Dibantu oleh putra sulungnya Joko Ervianto beserta istrinya (Atin), Sumi menawarkan bolu kukus cokelat tersebut sebagai salah satu menu di katering mereka. Berkat kelezatan dan cita rasa bolu kukus cokelat yang unik, produk tersebut dengan mudahnya diminati para konsumen.
Melihat permintaan pasar akan produk tersebut sangatlah bagus, pada tahun 2000 keluarga Sumi memutuskan untuk membuka usaha brownies kukus dengan menggunakan merek Amanda. Nama tersebut merupakan singkatan dari Anak Mantu Damai, yang artinya mengharapkan anak dan menantu bisa selalu hidup rukun dan damai.
Langkah Awal memasarkan brownies kukus Amanda ternyata tidak semulus yang dibayangkan Sumi beserta anak dan mantunya, kios usaha yang dibuka di komplek pertokoan Metro Bandung harus tergusur setelah pertokoan tersebut terbakar. Hingga akhirnya mereka memindah usaha kue tersebut dengan menyewa tempat di kawasan Jl. Tata Surya Bandung. Cobaan tersebut tidak menyurutkan tekad mereka untuk tetap menjalankan bisnis brownies kukus, dengan lokasi usaha yang baru mereka juga merasa tertantang untuk bisa mendapatkan pelanggan baru.
Merintis usaha kembali di tempat baru, ternyata memberikan keuntungan tersendiri bagi Amanda. Tak sulit bagi mereka untuk mendapatkan konsumen baru, bahkan minat konsumen semakin meningkat setelah mereka pindah di lokasi baru. Brownies yang diproduksi setiap harinya selalu habis dibeli konsumen, dan tak jarang banyak konsumen yang harus kecewa karena brownies kukus yang ingin dibelinya sudah habis terjual.
Seiring dengan permintaan pasar yang semakin tinggi, membuat tempat usaha yang mereka tempati sudah tidak memenuhi kapasitas produksi. Tahun 2002 Sumi dan keluarganya berpindah lagi ke lokasi usaha baru di Jl. Rancabolang Bandung. Mengulangi kesuksesan di tahun sebelumnya, dari lokasi yang baru kesuksesan brownies kukus Amanda menunjukan kemajuan yang luar biasa. Lokasi yang strategis dan didukung dengan cita rasa brownies kukus yang lezat, mengantarkan bisnis yang dulunya hanya dikerjakan di rumah kini menjadi industri kue yang sangat sukses. Dan pada tahun 2004, merek brownies kukus Amanda resmi dipatenkan menjadi brand produk kue buatan Sumi dan keluarganya.
Dibantu para menantu dan ketiga putranya Joko Ervianto, Andi Darmansyah, dan Sugeng Cahyono, kini brownies kukus Amanda sudah memiliki puluhan cabang yang tersebar di berbagai kota. Dengan menawarkan lebih dari dua puluh varian produk, saat ini penjualan produk Amanda bisa mencapai ribuan kotak untuk setiap harinya di masing-masing cabang. Anda bisa bayangkan bukan, berapa besar keuntungan yang diperoleh keluarga Sumi setiap bulannya?
Semoga artikel  bisa memberikan inspirasi bisnis bagi para pembaca. Ketekunan, tekad dan kerjasama yang dimiliki keluarga Hj. Sumiwiludjeng berhasil mengantarkan bisnis rumahan menjadi industri besar, serta mewujudkan impian Sumi untuk selalu membuat anak dan mantunya bisa hidup rukun menjalankan usaha bersama.
Oleh karena itu, yakinkan diri Anda bahwa setiap orang memiliki peluang sukses yang sama besar. Andapun juga bisa sukses bila Anda memiliki tekad besar dan berusaha fokus untuk menekuninya. Selamat berkarya dan salam sukses.
Sumber : http://bisnisukm.com/brownies-kukus-kisah-sukses-bisnis-rumahan.html


Kisah Sukses Maulin’s Brownies Panggang

Tidak sedikit orang yang memiliki keahlian dalam membuat kue. Tapi hanya sedikit yang bisa menggunakan keahlian membuat kue untuk membuka usaha bisnis pembuatan dan penjualan kue. Diantara yang sedikit itu misalnya wirausahawan yang bernama Adi Sunyoto, pemilik Maulin’s Brownies di Bekasi. Berikut adalah kisah wirausahawan ini saat memulai dan kini mengembangkan bisnis kue dengan brand Maulin’s Brownies.

BROWNIES PANGGANG DENGAN CITA RASA GURIH

Bisnis kue dengan resep khas olahan rumahan bisa dilakukan siapa saja. Namun tak semua usaha kue bisa populer, bahkan sukses menjaring pelanggan setia tanpa biaya promosi tinggi. Maulin's Brownies membuktikan, cita rasa yang konsisten dan kualitas terjaga lebih dari 10 tahun berhasil melambungkan namanya.

Sejak 1998, brownies panggang dengan resep khas dari Semarang ini mulai diproduksi di Bekasi. Adi Sunyoto, pemilik Maulin's Brownies, mengaku awalnya menjual kuenya kepada rekanan di kantor. Jika dulu ia hanya membuat 4 kotak brownies, kini produksinya mencapai 1.000 kardus kue per harinya.

"Sejak krisis moneter 1998, beragam usaha dilakukan hingga akhirnya kakak tertua di Semarang mengusulkan usaha kue yang memang sudah dijalaninya di sana. Ide usaha ini mulai dipraktekkan di rumah, melihat saat itu di Jakarta sendiri memang belum ada usaha brownies," papar Adi.

Bermodalkan Rp 100.000 untuk membeli bahan baku seperti tepung, gula, cokelat, dan dengan alat masak rumahan ala kadarnya, brownies panggang mulai diproduksi dalam tahap uji coba. "Perlu waktu 3 hari untuk menemukan takaran brownies panggang yang pas. Sebelum dikenalkan kepada orang lain, kami harus yakin bahwa kue ini enak dan menjual," ujar Adi.

Adi saat itu dibantu sang istri, Nur Arifiasih, untuk menjual brownies di kantornya, sebuah bank di Jakarta. Kerjasama suami istri dalam membangun bisnis ini mulai membuahkan hasil. Brownies bermerek Maulin, yang diambil dari nama anak perempuan mereka satu-satunya, berhasil menarik minat meski masih perlu pengembangan produk. "Selera di Jakarta beda dengan selera Semarang yang cenderung manis. Permintaan pasar umumnya menginginkan brownies dengan rasa lebih gurih dan tak telalu manis," kata Adi, yang mengaku bahwa bersikap terbuka dengan masukan dari pembeli membuat usaha kuenya semakin berkembang.

Kebutuhan pasar menjadi ukuran utama bisnis brownies dalam mencari takaran yang tepat untuk cita rasanya. Resep asli dari Semarang disesuaikan dengan karakter pasar berdasarkan lokasi. Cara memasak, termasuk ukuran panas api dalam panggangan, juga menentukan cita rasa kue khas Maulin. Dengan cara ini, Maulin's Brownies menarik semakin banyak penggemar. Pesanan bertambah dengan rata-rata hingga 50 kardus setiap hari selama dua tahun pengembangan produk. Kapasitas produksi rumahan yang terus bertambah membuat pemilik usaha menyewa toko. Tempat produksi dipindahkan ke tempat yang lebih luas, dengan penambahan empat koki dan 10 karyawan. "Manajemen dan keuangan lebih teratur karena produksi sudah mulai berkembang sejak tahun 2000," ujar Adi.

Modifikasi produk setiap tahun

Selain mengembangkan jumlah produksi dan karyawannya, Adi juga terus berusaha meningkatkan kualitas dan variasi produknya. Ia bahkan tak sungkan membiayai sekolah kokinya untuk belajar lebih dalam tentang pembuatan kue. "Koki sebagai kunci bagian produksi perlu belajar lebih banyak untuk pengembangan produk. Mereka difasilitasi untuk belajar di sentra kue seperti Bandung atau Yogyakarta," kata Adi. Bekal ilmu inilah yang kemudian membuat Maulin's Brownies memiliki variasi produk yang tak kalah populer. Pengembangan produk terus dilakukan sejak 2005, dengan mengadaptasi dan modifikasi produk sesuai potensi pasar Maulin.

Brownies Kukus Maulin misalkan, produk ini dikembangkan saat brownies kukus sedang dalam masa jaya pada 2005. Bandung merupakan pusat produsen brownies kukus dimana Maulin mempelajari proses pembuatannya, untuk kemudian memproduksi sendiri sesuai selera pasarnya.

Pengembangan kue lain di Maulin di antaranya Lapis Surabaya, Pisang Molen, Bika Ambon, Roll Cake, Black Forrest, bahkan brownies dengan varian rasa buah. Semua jenis kue ini dimasak tanpa pengawet. Untuk brownies panggang daya tahannya bisa mencapai seminggu, sedangkan brownies kukus tiga hari. Kue produksi Maulin ditawarkan dengan harga mulai Rp 10.000 - Rp 36.000, dan mulai Rp 55.000 - Rp 200.000 untuk Black Forrest. Variasi kue ini dijual di lima toko cabang di kawasan Bekasi dan Jakarta Timur, termasuk toko dari 15 mitra kerja. Total omzet Maulin's Brownies mencapai lebih dari Rp 300 juta per bulan.

Diberi asuransi

Merekrut tenaga ahli dalam produksi, marketing, komputerisasi keuangan, dan bekerja sesuai porsi, menjadi kunci keberhasilan lain usaha rumahan ini. Saat ini total koki berjumlah lima orang dengan total karyawan 40 orang. Tenaga ahli pun diapresiasi tinggi. Setiap karyawan diberi asuransi kecelakaan kerja dan kesehatan. Bahkan beberapa rumah di kawasan pemukiman yang menjadi tempat produksi pun mendapat asuransi. "Produksi kue seperti ini jelas punya risiko. Asuransi menjadi proteksi yang harus diberikan untuk perlindungan. Ke depan memang harus segera pindah lokasi produksinya," papar Adi, yang berencana membangun rumah produksi tak jauh dari toko yang sudah menjadi hak milik tersebut.

Brownies Maulin menjadi contoh bagaimana kualitas mampu menjual produk tanpa perlu promosi tinggi. Kebanyakan pembeli bahkan tak segan datang ke toko utama di Taman Narogong Indah, Kelurahan Bojong Rawalumbu, Kecamatan Rawalumbu, Bekasi. "Toko utama memberikan kontribusi 60 persen dari penjualan. Meskipun tanpa papan nama dan promosi, orang tetap datang," kata Adi.

Layanan antar untuk pemesanan minimal 15 kardus juga tersedia, tanpa dipungut biaya. Pelayanan memang menjadi nilai jual sekaligus promosi gratis yang menyenangkan pelanggan.

Sumber : http://www.bunyu-online.com/2010/11/bisnis-kue-brownies-panggang.html

  
Kisah Sukses Brownies Singkong

Para penikmat kue tentu sudah mengenal baik brownies, yaitu cake coklat yang bantat atau kenyal, berasa manis dan legit. Makanan ini sempat menjadi santapan terkenal lantaran ada beragam model pengolahannya. Mulai dari brownies oven sampai kukus.
Biasanya, brownies memakai bahan baku tepung terigu. Tapi saat harga terigu terus naik seperti sekarang, mulai ada usaha menggunakan tepung singkong sebagai bahan baku utama. Bentuk dan rasanya memang sekilas tak berbeda. Sebagian orang bilang, rasanya beda tipis alias mirip sekali dengan brownies terigu. Tapi, biaya pembuatannya jauh lebih irit.
Salah satu yang pengusaha yang telah mencoba peruntungan brownies singkong adalah Sri Murtiningsih. Sejak Januari lalu, ia membikin brownies berbahan singkong. Sebelumnya, Sri telah melakukan uji coba hampir selama tiga tahun sebelum mendapatkan formula yang pas. "Dulu, saya coba bikin kue itu hanya sekedar untuk pameran," ungkap pemilik Hanah Cake yang berlokasi di Pancoran Mas, Depok.
Boleh dibilang, walau belum lama menggarap brownies dari tepung singkong, namun permintaan pasar sungguh menjanjikan. Buktinya, Sri sering kewalahan memenuhi permintaan. "Mungkin karena bahannya dari singkong, orang jadi penasaran dan ingin mencoba rasanya," ungkapnya.
Sri membuat brownies dalam dua bentuk. Pertama, brownies mungil yang ia lego seharga Rp 1.300 per potong. Kedua, brownies dalam boks atau kotak seharga Rp 17.000 hingga Rp 68.000 per kotak. "Yang beli boks kebanyakan kalangan menengah ke atas," ungkapnya.
Setiap hari, Sri mampu menjual brownies singkongnya ke sejumlah toko di kawasan Depok dan Jakarta. Ada yang dijual dengan sistem "titip" lewat pendagang atau warung. "Saya biasa titip ke warung-warung dan koperasi mahasiswa UI," imbuhnya. Jenis brownies yang ia titipkan biasanya berupa potongan-potongan kecil.
Selain itu, Sri juga melayani pesanan. Datangnya memang tak menentu. Bisa saja, bulan-bulan tertentu ramai sekali. Tapi, kadang, satu bulan penuh tak ada pesanan masuk.

Cara membuat brownies singkong pun cukup mudah.

Pertama iris dan panggang adonan coklat dan mentega. Selanjutnya aduk-aduk hingga meleleh. Kemudian campurkan coklat blok, mentega, butter, 200 gram telur ayam (tiga butir), gula kurang lebih 125 gram. "Dicampur susu supaya rasanya lebih enak dan empuk," kata Sri Murtiningsih, pembuat brownies singkong.

Setelah adonan selesai baru dibuat brownies. Adonan dicampur dengan mixer. Kemudian masukkan tepungnya kedalam adonan dan kocok kembali sampai rata. Setelah itu masukkan ke oven dan tunggu 45 menit hingga adonan matang. Setelah itu parutkan keju panggang. Baru setelah itu dipacking dan dilabel.

Ingin membangun merek

Sri sebenarnya bukan pemain baru di bisnis kue. Sejak 1993, ia sudah bergelut di bisnis ini. Awalnya, ia hanya bermodal Rp 25.000 untuk membuat cake, brownies dan cookies. "Pertama kali itu, saya jual sendiri ke stasiun Depok," kenangnya.
Selanjutnya, usaha Sri terus berkembang, walau pernah jatuh bangun juga. "Kadang omset penjualan kecil, sering juga hasilnya lumayan besar. Tapi, menjelang kenaikan bahan bakar (BBM) kemarin, omset turun lagi," ungkapnya sembari mengelak menyebutkan nominal omset usaha saat ini.
Dalam sebulan, Sri bertutur bisa membuat 500 kue jenis brownies, cake, dan cookies. Itu masih ditambah pesanan dengan rata-rata satu hingga tiga pesanan per bulan. "Kalau pesanan tidak bisa dirata-rata jumlahnya," jelasnya. Dari usaha ini, setiap bulan, Sri bisa mengantungi keuntungan bersih lebih dari Rp 2 juta.
Jika brownies sudah menggunakan tepung singkong, untuk membuat Cake dan Cookies, Sri masih menggunakan terigu sebagai bahan baku. "Perlahan, saya akan terus uji coba agar bisa diganti dengan tepung singkong semuanya," ungkap wanita berjilbab ini.
Bagi Sri, langkah memakai bahan baku tepung singkong ini antara lain untuk menekan ongkos produksi yang semakin mahal. "Tepung singkong di pasaran Rp 5.000 per kilogram, sedangkan terigu minimal Rp 8.000 per kilogram," jelasnya.
Sri melihat peluang dengan menggarap serius brownies dari singkong ini. Namun saat ini, ia masih ingin memantapkan formula sekaligus memperkenalkan secara luas produk ini ke masyarakat. "Saya promosi dengan ikut bazar, pameran dan menyebarkan brosur. Semoga itu bisa meningkatkan pesanan," ungkap Sri.
Sri bilang, ingin membangun merek sebagai pioner pembuat kue berbahan tepung singkong. Ia yakin, bisnis ini masih cerah lantaran belum banyak pesaing. Sayang, Sri masih terbentur dengan permodalan.
Sri bilang, sebagai pelaku usaha kecil, ia harus pintar-pintar menyiasati keadaan. Ia berharap ada pihak yang peduli mengangkat usaha yang cukup prospektif ini. "Semoga pemerintah peduli. Syukur-syukur ada yang mau menanamkan investasi dengan menjadi bapak angkat usaha ini," harapnya.
Sumber : http://www.suaramedia.com/ekonomi-bisnis/usaha-kecil-dan-menengah/42147-brownies-singkong-usaha-rumahan-modal-minim-omzet-jutaan.html


No comments: